Our Blog

Asyiknya Menyantap Terubuk Beralaskan Daun

Rupanya kita masih bisa menikmati sajian terubuk dan bunga pepaya di rumah makan. Tak cuma kuliner langka, di sini pun kita bersantap beralaskan daun pisang.

Jangan disangka yang diulas ini warung tenda kecil di tepi jalan lantaran pengunjung makan beralaskan daun pisang. Resto yang terletak di Jalan Citarum No. 34 Bandung, notabene kawasan elit ini, termasuk berpenampilan modern dan megah. Kapasitas tempat duduk untuk pengunjung saja mencapai 280 kursi.

Uniknya, di sini piring utama kita adalah sehelai daun pisang. Itulah sebabnya, nama rumah makan ini adalah Alas Daun, bahkan dengan slogan “Sensasi Makan Tanpa Piring”. “Memang, resto ini ingin melestarikan budaya tradisional Nusantara (50 jenis). Seperti makan beralaskan daun pisang itu. Tapi bukan hanya makanan tradisional Jawa Barat yang kami tampilkan, ada beragam makanan tradisional daerah lain di sini,” papar Kurnia Setiawan, General Affair Alas Daun kepada AGRINA.

Sajian Terubuk

Jadi, di sini, selain menikmati hidangan laut atau ayam goreng dan bakar, pecinta kuliner bisa menyantap makanan masa kecil mereka, seperti tutut, terubuk (sayuran berbahan seperti rebung yang dimasak dengan santan dan cabai hijau ditambah irisan paprika, udang, dan petai, rasanya seperti telur ikan), dan tumis bunga pepaya. Biasanya, pengunjung menjadikan makanan nostalgia tadi sebagai pelengkap dari menu utama. “Untuk seporsi terubuk harganya Rp8.500,” tambah Kurnia.

Nah, untuk menu utama, kita bisa memilih bermacam hidangan ikan, seperti baby ikan hiu, beronang, bawal, barakuda, kakap, nila, ikan mas atau gurami. Penyajiannya bisa dibakar atau digoreng. Di samping itu, tentu tersedia menu lain, seperti ayam bakar/goreng, empal goreng, lengkap dengan lalapan, tahu dan tempe, serta sambal. Jika ingin sayur, ada pula sayur asem dan ikan asin. Harga untuk sajian hidangan laut tadi nyaris tak berbeda dengan yang ditawarkan restoran sea food pada umumnya, bahkan jika dibandingkan tenda kaki lima.

Lihat saja, harga gurami bakar atau goreng (500 gr) hanya Rp45 ribu. Sedangkan ikan mas bakar (250 gr) atau goreng Rp15 ribu. Lalu, harga ikan ikan bawal air tawar, nila, baby hiu dan lele yang hanya Rp9.500 per potong/porsi. Khusus bawal laut Rp15 ribu. Sementara itu, sayur asem dan sayur lodeh dipatok seharga Rp 4.000 saja!

Yang istimewa adalah penyajian dari beragam pilihan sambal yang ada di sini. Semua sambal ditaruh di dalam ketel berukuran kecil yang unik. Ada banyak pilihan sambal, “Tapi yang paling difavoritkan pengunjung biasanya sambal goreng, sambal hijau, dan sambal dadak,” ujar Henhen Suhendar, salah seorang staf Alas Daun.

Untuk menikmati sambal tadi, kita cukup merogoh saku Rp3.000. Sambal pilihan kita akan datang lengkap dengan lalapan, seperti salada, timun, kol, dan tomat. Bila cuma sambalnya saja cukup Rp1.500.

Ketupat Kandangan

Masih ada lagi keunikan dari rumah makan yang juga memiliki cabang di Bali ini, tepatnya di Jalan Teuku Umar 221, Denpasar, yaitu pagi hari buka dari pukul 07.00-10.00 WIB menyajikan breakfast kepada pengunjung. Bukan penganan biasa yang ditawarkan, tapi sajian tradisional dari beragam daerah. Lihat saja, ada nasi goreng cikur, nasi goreng kuning (bukan dikukus), dan ketupat kandangan asal Kalimantan Selatan.

“Ketupat kandangan itu pada kuahnya dicampur ikan tenggiri. Harga penganan tadi semua sama Rp9.000,” ujar Kurnia seraya menambahkan bahwa pengunjung pada pagi hari juga bisa menikmati beragam gorengan tahu, tempe, atau pisang.

Untuk minuman, tentu ada yang istimewa dan langka pula di sini selain teh, kopi, jus, atau bermacam minuman ringan. Yaitu, es karengbong ungu, es goyobot, es alda, dan es talaga, mendampingi es teler dan es campur. “Es talaga itu ada alpukat dan kelapanya, sedangkan es goyobot itu minuman sejenis cendol yang khas bagi warga Jawa Barat. Es alda ada kelapa, tape, dan alganya,” urai Henhen.

Setiap hari resto Alas Daun harus menyiapkan 40-50 ekor gurami dan 20-30 ekor s ikan jenis lainnya. Tapi, jika weekend, jumlah tadi bisa meningkat dua kali lipat. Untuk bawal misalnya,  100-an ekor setiap hari saat  liburan. Sedangkan untuk ayam, bisa 100 potong untuk hari biasa.

Satu dari 7 Resto Terunik

Ayam dan ikan biasanya didatangkan oleh penyuplai rutin mereka, sedangkan sayuran dibeli dari pasar tradisional di seputaran Bandung, seperti Pasar Ciroyom atau Pasar Caringin. Daun salada kebutuhan mereka sekitar 3-5 kg tiap hari, sedangkan timun bisa 5-10 kg. “Untuk terubuk memang agak sulit mencarinya, harganya pun agak tinggi. Kami harus mencari terubuk sampai Pasar Cipanas (Cianjur),” jelas Kurnia.

Belum habis keunikan rumah makan satu ini. Setiap kali makanan pesanan pengunjung sudah lengkap di atas meja, akan datang karyawan untuk menanyakan apakah ingin mendapatkan kuah rendang dan kuah cumi. Kuah rendang dan kuah cumi itu gratis dan dijanjikan membuat nasi yang disantap lebih enak.

Dengan banyaknya hal menarik yang bisa kita jumpai di resto yang dibuka pada 4 April 2011 ini, tak mengherankan bila salah satu stasiun televisi swasta sempat menobatkannya sebagai satu dari tujuh restoran terunik di Indonesia. Khusus memasuki bulan Ramadhan, menu breakfast alias sarapan untuk sementara ditiadakan. Sedangkan menu-menu lainnya tetap hadir seperti biasa.

Ingin mencoba terubuk atau beragam sambal yang disajikan unik saat di Bandung? Langsung saja merapat ke sini.

Syaiful Hakim, Selo Sumarsono

disalin dari blog : http://www.agrina-online.com/redesign2.php?rid=14&aid=3734

happy wheels


No Responses

Leave a Reply